Branding Rokok

Jumat, 28 Oktober 2011

0 komentar
Kalo mau belajar branding, belajarlah dengan orang yang pertama kali membranding rokok.

Kenapa begitu? Alasannya sederhana, sebab rokok adalah sebuah produk branding yang paling sukses yang pernah ada di dunia. Tidak ada tandingannya. Sebegitu hebatnya branding pada rokok, bahkan hingga generasi berganti, image yang coba dibangun di masa itu terus tertanam hingga sekarang, bahkan berkembang. Hebatnya, tidak berhenti di situ, di tengah badai yang mencoba untuk mematahkan image yang ada, image yang dibentuk tetap bertahan hingga sekarang. Luar biasa.

Apa maksudnya? Mari kita bedah sedikit.

Semua data medis membuktikan jika rokok atas dasar alasan apapun memiliki efek kesehatan yang fatal bagi konsumennya. Lebih fatalnya lagi, menunjukkan bahwa menurunkan possibilitas orang untuk memiliki umur panjang karena begitu banyaknya racun yang ada di dalamnya. Tidak tanggung-tanggung, buktinya pun sudah jutaan, puluhan juta atau bahkan ratusan juta orang yang akhirnya harus meregang nyawa akibat penyakit yang dibawa oleh racun-racun dalam rokok.

Herannya, konsumen rokok tidak juga berkurang dari waktu ke waktu, malah selalu bertambah. Orang tidak segan-segan mengeluarkan puluhan ribu untuk mengkonsumsi racun. Bukankah itu menarik?

Menurut saya inilah bukti betapa efektifitasnya suatu branding dan kampanye periklanan berjalan, dimana persepsi yang didukung oleh fakta-fakta yg faktual di lapangan dan data-data medis yang akurat berhasil ditepis dengan sebuah kampanye periklanan dan branding yang efektif mengenainya. Menurut saya mereka lah dewa dari dewa periklanan sepanjang masa.

Sayangnya sampai sekarang saya belum bisa menemukan siapakah mereka.

Tapi di akhir kata, melihat dari kasus ini dapat kita simpulkan bahwa sebuah kampanye periklanan yang efektif dan ampuh adalah sebuah kampanye periklanan yang tidak hanya dapat memberikan pola komunikasi secara menarik, namun dapat memberikan nilai tambah yang begitu besar sehingga orang tidak sanggup untuk berkata tidak terhadap produk kita, meskipun data yang ada berkata lain. Inilah sebuah kampanye periklanan yang efektif dimana para khalayak berhasil dihipnotis oleh image yang kita bangun, bukan hanya sekedar berindah-indahan di crafting dan ide saja, namun bisa menyentuh sisi paling emosional dari diri mereka sehingga sulit bagi mereka untuk berkata tidak terhadap produk apapun yang kita tawarkan, sesampah dan sejelek apapun produk itu. Lihatlah rokok, racun yang kemudian berhasil dijual ke milyaran orang di muka bumi. Fantastis!

Sebagai orang yang bekerja di periklanan melihat betapa kuatnya branding rokok, kita harusnya tertantang untuk bisa membuat hal semacam itu. Bukan, rokok tidak pernah berusaha membohongi konsumen, lihatlah bahwa di packaging dan iklannya saja ada peringatan tentang bahayanya yang tertulis dengan jelas, namun rokok memberikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana suatu produk harusnya dilihat. Rokok berhasil diberikan added value yang luar biasa sehingga mereka bisa menggantikan image racun yang selama ini tertanam.

Kalo racun saja bisa dijual, kenapa produk lain yang bukan racun tidak sanggup kita kemas sebaik itu?

Sang Penunggu Angkutan

Senin, 10 Januari 2011

10 komentar
"Dan akhirnya tibalah saya di perhentian berikutnya, ikut turun bersama 30 orang lainnya yang juga menumpangi bus yang sama dalam perjalanan selama 3,5 tahun ini. Meninggalkan 60 orang lainnya yang belum juga sampai di perhentian yang dituju."


Dalam perjalanan selama 3,5 tahun ini, awalnya sebagai penumpang yang baru menaiki bus ini tidak saling menyapa, saling sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Mereka yang naik dengan bergerombol kemudian sibuk dengan gerombolannya masing-masing, meninggalkan mereka yang sendirian di pojok bus, membaca buku sendirian sembari mendengarkan musik lewat earphone di telinga mereka.

Namun seiring perjalanan yang terus berlanjut, menghadapi kemacetan yang membosankan, jalanan berkelok-kelok yang panjang, atau bahkan jalan tol yang lurus menjemukan, kami pun kemudian mulai saling bertegur sapa. Menyadari bahwa kita adalah penumpang dengan nasib yang sama, merasakan perjalanan ini dengan satu rasa yang sama. Mereka yang awalnya bergerombol mulai memecah diri, berbicara dan bertegur sapa dengan mereka yang sedang asyik membaca buku sendirian di pojok.

Mereka yang naik bis ini dari halte "Jakarta", "Jogja", "Bandung" atau bahkan "Luar Jawa" sekalipun mulai bercampur satu sama lain. Tapi ah, semua itu kemudian hanya berjalan sementara. Bus yang luas ini kemudian akhirnya menciptakan gerombolan-gerombolan baru yang menempati pojok kursinya masing-masing. Tapi ya sudahlah, mungkin memang harusnya begitu. Saya pun kemudian memilih gerombolan yang duduk di kursi pojok kanan depan yang kami beri nama pojokan "iklan".

Di tengah perjalanan yang kian mengasyikkan bersama gerombolan ini, tiba-tiba sang kondektur bus menyampaikan pesan kalau bus akan segera tiba di Halte "Lulusan 2007, Tahun Akademik 2010". Hal tersebut kemudian membuat sebagian dari kami resah. Ada yang kemudian dengan mantap mengambil kopernya di laci atas tempat duduk dan bersiap turun, ada juga yang masih ragu-ragu untuk menurunkan koper.

Ketika bus akhirnya benar-benar berhenti di halte tersebut, mereka yang sudah menurunkan kopernya dan bersiap turun ada yang langsung bergegas turun. Ada pula sebagian yang turun dengan ragu-ragu, dan ada pula yang batal turun, mengembalikan kopernya ke laci atas tempat duduk dan kembali menempati kursinya untuk ikut dalam perjalanan bus ini menuju pemberhentian berikutnya, Halte "Lulusan 2007, Tahun Akademik 2011".

Terhitung 30 orang lebih yang akhirnya turun dari bus, sebagian dengan senyum lebar, ada yang dengan muka muram dan bahkan ada yang terisak tangis. Kini kita meninggalkan 60 orang lainnya yang memutuskan untuk meneruskan perjalanan dengan bis yang sama menuju pemberhentian berikutnya. Meninggalkan perjalanan yang selama 3,5 tahun ini memberikan banyak pengalaman dan pelajaran, tentang banyak hal, tentang hidup dan mungkin bagi sebagian dari mereka, tentang cinta. Kini para penumpang itu berpisah di halte, sebagian saling berpelukan, sebagiannya lagi berjabat tangan tanda berpisah. Para 60 penumpang itu pun kemudian kembali menaiki bus tersebut, dan bus itu perlahan berjalan menjauh. Sedih? Itulah hidup. People come and go, but memories stay.

Ah, tidak terasa perjalanan itu akhirnya berakhir di sini. Perjalanan yang panjang, dan kadang terasa sulit dan menjemukan itu akhirnya menemukan ujungnya bagi saya dan 30 orang lainnya di sini, di halte ini. Tentu kita berharap suatu saat nanti kita akan bertemu dalam bis lain yang sama, mungkin tidak dengan semua, tapi dengan sebagian dari mereka yang sangat berarti buat kita di selama perjalanan ini.

Ada sebagian dari kami yang kemudian buru-buru menaiki bus berikutnya yang lewat di halte ini, bus dengan jurusan "dunia kerja". Ada juga, termasuk saya yang masih menunggu bus yang tepat untuk mengangkut saya. Sebagian lain malah masih asyik sendiri, menikmati pemandangan di halte, berbelanja di pedagang asongan, atau malah sekedar tidur-tiduran saja di halte. Ya, inilah di saat istilah everyman for himself mulai berlaku. Kita kini bertanggung jawab sepenuhnya pada diri sendiri akan apa yang kita lakukan di halte tersebut. Mau buru-buru naik bus berikutnya, atau asyik tidur-tiduran di halte dengan resiko ketinggalan bus. Semua terserah masing-masing. Karena jika kemudian kita kehabisan uang untuk membeli nasi bungkus di warung sebelah halte sementara kita ketinggalan bus, nihil orang yang akan membantu kita di sini.

Saya sendiri masih menunggu. Menunggu bus yang tepat dan mau mengangkut saya dalam perjalanan mereka. Beberapa bus banyak yang lewat, sebagian tidak mau berhenti untuk saya, sebagian lagi berhenti, namun ternyata tujuannya tidak tepat untuk rencana perjalanan saya.

Semoga bus yang tepat untuk saya akan segera datang...



*tulisan ini saya dedikasikan untuk semua sahabat-sahabat saya di komunikasi UI 2007, it's been a great great great journey all along with you guys. Wishing you for a greater life ahead, hope we'll meet again someday in the REAL LIFE :)

Orangtua bukan Dewa dan anak bukan kerbau

Rabu, 01 Desember 2010

2 komentar
Dalam prinsip hierarki keluarga kita mengenal istilah-istilah yang sebenarnya memberikan pangkat tertentu dalam sistem rumah tangga. Tujuan dasarnya adalah pembagian peran dan tugas masing-masing dalam sistem tersebut. Kita mengenal istilah ayah yang berperan sebagai kepala keluarga, dan bertugas mencari nafkah, ada juga ibu yang berperan sebagai pengurus rumah tangga dan bertugas menata kehidupan rumah tangga yang ada. Kita juga mengenal peran seorang anak, yang berperan sebagai sub-ordinat terbawah dalam sistem ini dan bertugas mengenyam pendidikan.

Konsep hierarki ini dapat dipahami sebagai sesuatu yang tidak sejajar karena secara bawaan mereka yang menyebut dirinya orangtua memegang sebuah hak yang sangat istimewa. Oleh agama, mereka diberikan sebuah kekuasaan yang sangat luas dan kebebasan untuk bertindak secara otoriter. Layaknya sebuah negara, menjadi kebebasan bagi mereka yang lebih kuat untuk memilih apakah kemudian akan tetap bersikap otoriter atau beralih menjadi negara yang demokratis, atau malah berpura-pura demokratis dengan agenda tertentu.

Berkedok aturan-aturan normatif seperti "jangan melawan orangtua nanti kamu durhaka", anak diposisikan sebagai sub ordinat yang tidak selayaknya membantah. Harus menurut seperti kerbau dan mendewakan orangtua selayaknya Tuhan yang selalu benar. Vox populei vox dei tidak berlaku dalam sistem rumah tangga, yang ada adalah vox parentes vox dei, suara orang tua adalah suara Tuhan, mereka ditempatkan selayaknya kaisar Jepang yang merupakan penjelmaan dari Tuhan.

Secara historis memang mereka memiliki jasa dalam melahirkan dan membesarkan kita, namun bukankah kita terlahir dengan tujuan tertentu yang memang diatur oleh Tuhan? Jika kaum feminis saja bisa meminta persamaan hak dengan kaum pria, mengapa hingga era modern seperti ini kekuasaan yang terlalu luas seperti itu pada orangtua masih saja tidak dapat dibantahkan?

Kini jika orangtua dan anak bermasalah, selalu anak yang harus mengalah. Mengalah dan kalah.
Padahal tidak jarang pula orangtua yang salah dan selayaknya meminta maaf. Selayaknya budak, anak harus menempatkan dirinya menghamba, meminta maaf, disaat orangtua selayaknya juga berkaca, sudahkah saya sesempurna itu?

Kita anak diikat oleh ikatan yang disebut ikatan finansial. Kita belum bisa mandiri, masih diberikan sumbangan oleh mereka yang menjadi leverage mereka dikala kita bermasalah. Selayaknya negara adikuasa yang menekan negara berkembang, "paket bantuan ekonomi" ini seringkali dijadikan alat tawar yang efektif dalam menekan kita dalam posisi di rumah. Sebuah kekuasaan yang mereka dapatkan karena mereka lahir lebih dahulu dari kita, bukan karena mereka memang pasti lebih hebat dari kita, hanya belum saatnya bagi kita untuk terlepas dari jerat "paket bantuan ekonomi" itu. Saat kita mandiri, dan pasti kita akan mandiri, akan tiba saatnya berbalik paket itulah yang kita berikan ke mereka. Melihat hubungan yang mutual seperti ini, seharusnya mereka sadar, bahwa kekuatan ekonomi mereka di masa ini adalah investasi untuk diri mereka sendiri di masa mendatang, investasi yang diberikan lewat kita.
Terdengar egois bukan mendengar kata investasi? 
Seharusnya mereka sadar investasi tersebut, dan selayaknya investasi tidak seharusnya mereka menempatkan diri mereka dalam posisi bargaining yang tinggi saat ini untuk menekan kita, jika tidak ingin berbalik di kemudian hari. Dan kita pada saatnya nanti, tidak akan berinvestasi kepada mereka, kita hanya akan benar-benar memberikan "paket bantuan ekonomi" semata, karena tidak akan ada future profit yang menanti dari "paket bantuan ekonomi" bagi mereka pada saatnya nanti.
Tolonglah bersifat lebih arif wahai orangtua..

Ah, kalian yang membaca tulisan ini boleh punya pendapat kalian masing-masing. Tapi jangan ceramahi saya dengan kalimat-kalimat normatif yang sudah saya tahu. Kalimat nasehat seperti itu sudah terlalu banyak saya baca di buku-buku akhlak sewaktu sekolah dasar dan rasanya tidak perlu kalian ulang untuk ingatkan kepada saya sekarang. Dan saya  juga tidak meminta kalian bersimpati kepada saya, silahkan berpandangan berbeda dengan saya, saya bukan mereka yang otoriter. Tulisan saya ini karena saya merasa mereka bukan Dewa dan saya bukan kerbau yang harus selalu menurut, kita diciptakan sederajat oleh Tuhan sehingga selayaknya mulai berkaca pada tugas dan peranan masing-masing, bukan malah menempatkan satu lebih rendah daripada yang lain dan berpikir dapat bertindak sewenang-wenang kepadanya.

Seandainya menghapus lemak semudah menghapus dosa pas lebaran

Rabu, 03 November 2010

8 komentar
Pada dasarnya manusia tidak pernah akan merasa puas dalam hidupnya.
Sebagian dari mereka merengek-rengek supaya bisa naik beberapa kilo. Kelompok ini menyebut dirinya Kerempeng.
Sebagiannya lagi meronta-ronta ingin membuang beberapa kilo lemaknya. Kelompok ini menyebut dirinya Gembrot.




Kerempeng dan Gembrot punya satu tujuan yang sama : menjadi ideal.

Memiliki dada bidang, tangan kekar dan perut kotak-kotak adalah impian hampir setiap umat manusia dengan jenis kelamin laki-laki (gak mungkin wanita pengen punya dada bidang kan :p).
Banyak yang membantah dengan bilang "I love myself just the way I am"
Atau dalam bahasa yang lebih sederhana "Gw males usaha"
Ada juga yang bilang "Gendut itu sehat kok"
Atau dalam bahasa lainnya "Gw lebih suka makan daripada olahraga"

Kerempeng dan Gembrot membantah demi harga diri. Berdusta demi kehormatan keluarga.
Seperti kata pepatah, hati orang siapa yang tau?


Punya proporsi badan yang ideal memang bukan perkara mudah. Banyak orang lebih ikhlas bayar mahal buat sedot lemak atau pompa lemak daripada buat nyumbang di kotak amal pas jumatan.
(Padahal siapa tau kalo nyumbang pas Jumatan, pas abis sujud tiba-tiba Tuhan ngerubah badan kita jd kayak Spartan)
Tapi itu cara instant. Dan yang instant tidak pernah sehat.

Jadi gimana caranya?

Case Study :
Sebutlah saja namanya Budi. Budi magang di sebuah agency periklanan di bilangan Blok M selama 3,5 bulan. Di awal magang, Budi berbobot 68 kg, dan pasca magang Budi berbobot 73 kg!
Budi cemas. Budi was-was.
Semua orang menghina-dina Budi. Mencela Budi. Memberinya julukan "tidak punya leher dan dagu".
Budi terluka. Kemudian Budi berkata "Saya akan kurus!"
Hanya dengan sedikit pengaturan porsi dan jenis makanan, serta olahraga rutin 3x seminggu, Budi berhasil menurunkan bobotnya hingga 65 kg dalam sebulan saja.
Budi kembali gembira melihat perutnya mulai melandai.
Bulan depan, Budi berencana turun hingga 60 kg. Dan Budi yakin dia pasti bisa.

Nah dari case study di atas, terlihat bahwa sebenarnya sederhana sekali cara yang harus ditempuh untuk menurunkan bobot kita, dan ataupun menaikkannya (kalo mau menaikkan, ceritanya di balik aja).
Masalahnya sebenarnya adalah niat.
Banyak kaum Gembrot dan Kerempeng yang tidak punya niat yang kuat untuk berubah.
Pengen ideal dengan beli sabuk peramping Osim Slimming Belt (Budi dulu juga pernah beli) yang hasilnya nihil dan malah bikin sembelit. Selalu pengen instant.

Jadi sebenarnya semua itu berawal dari niat.
Setelah niat baru diimplementasikan jadi tindakan dengan olahraga rutin minimal 3x seminggu dan mengurangi porsi makanan terutama yang mengandung karbohidrat.
Istirahat yang cukup juga penting. Jangan percaya mitos "begadang bikin kurus".
Yang bener "begadang bikin masuk angin". (Budi masuk angin soalnya pas suka begadang)

Emang sih seandaikan "ngehapus lemak segampang ngehapus dosa pas lebaran"
sayangnya gak mungkin.
Sekarang tinggal terserah Anda, para kaum Kerempeng dan Gembrot, apakah Anda siap berniat untuk menjadi ideal?



*tokoh Budi sepenuhnya adalah tokoh fiktif. jika ada kemiripan karakter, cerita dan latar belakang maka sepenuhnya adalah ketidaksengajaan.

Small Talk

Jumat, 25 Juni 2010

6 komentar
Joseph Tan, a country advisor (or known as CEO as well) of Lowe Lintas Indonesia, came to my desk few nights ago when I was working on storyline for TVC ad of a beverage product. It rarely occurs, a person with that high position came and have a little chit-chat with an intern like me.

I was sitting with my fellow art director partner, discussing some changes in the latest storyline version when he suddenly came to my desk. First, I wondered what did he wanted to talk about with us, but when he started to talk, that little conversation that we had become something precious for me.

Okay, actually it wasn't a small talk. We were talking for about 30 minutes, sharing all things that we should know about advertising world. I'm gonna share you some of important things that I heard that night.

1. "If you can't be a superstar, and stuck just being good, you can't survive in this industry".
This is the first point that I really remember and caught me into a big question inside my head. "Am I a superstar?".
Yes, Joe (Joseph Tan - Red), told us that if you can't be a superstar then you can't survive in this industry. You will stuck at the age of 40 just become a mid-level copywriter, doing brochures.
That question stuck in my head until today, and also becomes a booster for myself to become more than just a 'good' copywriter, but a 'superstar' copywriter, and I have a faith on myself that I can be more than just a 'good' copywriter and also be more than just a 'superstar' copywriter.
I'll be 'the best' copywriter.

2. "Creativity is a talent."
Joe said that those who works at Lowe is talented people. They have this talent to create something extraordinary with their creativity.
Well, everybody can work at Lowe. Everybody with talent as good as Andrea Billy or Anton Jaya, he said.

3. "If you can't be a Creative Director in top 5 agencies in Indonesia, it's better for you to get yourself another job"
It was a sarcastic words from him, but also a challenge for me. He said that you can measure how good you are by seeing this. If you can't be a CD in top 5 agencies, then you are not fit in advertising world.
Well this words are pretty argumentative, but I take this as a challenge for me to proof it that I can be someone who can fit in the industry by becoming a CD in one of those 5 top agencies.

Well small talk with Joe really boost myself, that I can proof it. I can be more than just good, that I can be the best copywriter in Indonesia.
That cannes lions will announce my name as a gold winner someday.
One day, my name will be on the top list of the creative rank in Asia.
And I will do whatever it takes to learn, how to be the best.
I believe in that.

kata kita kota kutu, kata kamu kotak susu

Kamis, 29 April 2010

1 komentar
What is hidden inside "Lucky Budianto Ardhi"?
Let's play anagram!
Here's how to play this,
I just break those letters from italic words, and form it into new words, one with bold marker :)

1. Inside "Lucky Budianto Ardhi", are hidden these words...

kind  : ramah
hunky : keren
odd : aneh
hick : orang udik (bwahahaha, suitable for me I guess)
balky : keras kepala
unruly : tegar
toil : pekerja keras
lurid : seram
outrun : lebih cepat

2. What comes up when "Lucky Budianto Ardhi" plays with his own "imaginations" and "fantasies"?

it comes up with STUNNING IDEAS!

3. What will happens if "Lucky Budianto Ardhi" gets a "brief" and "insight", and then found an "idea"?

the result is....INCREDIBLE THINGS!

4. And now what will happens if "Lucky Budianto Ardhi" "works" in your "agency" as a "junior copywriter"?

it seems that you will have an AWARD WINNING AD!


*why you should think twice to pick me while you only have one best option? :)

Lucky Budianto Ardhi - Lord of Word!
luckyardhi.multiply.com / luckyardhi@ymail.com

*kalo ada yang bingung cara baca post di atas, jd kata-kata yg di bold dan besar itu adalah susunan huruf dari kata-kata yang di italic dan di assemble ulang jadi kata-kata baru yaitu kata-kata yg di bold tadi. kita lagi main anagram :)

Debu Periklanan (1)

Senin, 19 April 2010

0 komentar
"Advertising is the greatest art form of the 20th century"
-Marshall McLuhan


Mbah McLuhan emang gak salah bilang begini, mungkin kalo dia bisa ngeralat kata-katanya, bakalan ditambahin "20th and 21st century" kali ya.
Iklan-iklan yang ada sekarang-sekarang emang bikin saya merasa menjadi debu periklanan, and I will tell you why!
Inilah alasan mengapa saya menganggap diri saya adalah debu di dunia periklanan,



Ini copywriter-nya dikasih makan apa ya pas bisa sampe bikin iklan kayak begini?



Awareness test yang unik banget, bisa banget dikaitin sama kepedulian pengguna kendaraan bermotor sama pengguna sepeda.



Semua sepakat kalo Tan Hong Ming emang legend deh!



Thanks to Citra Pariwara yang menunjukkan saya si Love Distance ini!



buat mengkampanyekan safety driving  di jepang, disponsorin sama dunlop kalo gak salah



produksinya Saatchi & Saatchi Indonesia, membalik perspektif pake instalasi kotak2 gt, keren! take a box, take away poverty



yang ini bikinannya Hakuhodo Indonesia buat WWF Indonesia, monumen tanah airku!



iklan google yang keren banget di superbowl!

Inilah sejumput iklan yang menurut saya keren, masih banyak iklan-iklan keren lainnya yang nanti saya tunjukkan ke anda-anda semua di post-post berikutnya
Gimana gak merasa diri menjadi debu periklanan kalo ternyata iklan-iklan di luar sana kerennya kayak begini?

Heran deh itu di kepalanya isinya apa ya bisa bikin iklan kayak begitu?
Semoga suatu hari saya bisa lebih hebat dari mereka semua, amiin.